Keir Starmer baru saja menyelesaikan sesi PMQs terakhirnya sebagai perdana menteri dengan momen yang cukup emosional. Ia mendapat tepuk tangan dan sorakan dari anggota partainya serta beberapa anggota parlemen lain setelah memberikan jawaban penutup.
Sesi PMQs sendiri adalah tradisi mingguan di House of Commons di mana perdana menteri menjawab pertanyaan langsung dari anggota parlemen. Format ini sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi salah satu momen paling dinanti di kalender politik Inggris.
Momen standing ovation ini menandai berakhirnya periode Starmer sebagai pemimpin eksekutif pemerintahan. Banyak yang melihatnya sebagai penutup yang hormat, terutama karena biasanya sesi PMQs berlangsung cukup sengit dan penuh interupsi.
Salah satu konteks penting yang layak dicatat adalah bagaimana PMQs telah berevolusi seiring perkembangan teknologi. Kini sesi ini disiarkan langsung melalui berbagai platform digital, memungkinkan jutaan orang mengikutinya secara real-time tanpa harus berada di gedung parlemen. Perubahan ini membuat jangkauan PMQs jauh lebih luas dibanding era sebelumnya.
Selain itu, data menunjukkan bahwa sejak pandemi, banyak anggota parlemen mulai menggunakan sistem hybrid untuk mengajukan pertanyaan, meskipun format utama tetap dilakukan secara fisik di ruang sidang. Hal ini mencerminkan adaptasi parlemen terhadap kebutuhan modern tanpa mengubah esensi tradisi.
Bagi pengamat politik, standing ovation di akhir sesi sering dianggap sebagai bentuk penghargaan lintas partai, meskipun tidak selalu terjadi. Starmer sendiri tampak terharu saat menerima apresiasi tersebut.
Ke depan, perhatian akan beralih ke siapa yang akan mengambil alih peran sebagai perdana menteri dan bagaimana mereka akan menghadapi tekanan di sesi PMQs yang sama. Tradisi ini kemungkinan akan terus berlanjut dengan dukungan teknologi penyiaran yang semakin canggih.





