Kegagalan Sistem PPE di NHS: Boros Rp 200 Triliun karena Teknologi Pengadaan yang Ketinggalan

Pandemi Covid-19 memperlihatkan betapa rapuhnya rantai pasok alat pelindung diri atau PPE di Inggris. Laporan inquiry terbaru mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan NHS sering kali tidak mendapatkan perlindungan memadai, padahal mereka berada di garis depan.

Masalah utamanya bukan hanya soal kualitas barang, tapi juga proses pengadaan yang masih bergantung pada sistem manual dan database yang tidak terintegrasi. Akibatnya, stok PPE sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan, bahkan banyak yang terbuang sia-sia.

Total pemborosan yang tercatat mencapai £10 miliar. Angka ini mencerminkan betapa mahalnya harga dari ketidaksiapan infrastruktur digital di sektor kesehatan. Banyak rumah sakit harus berimprovisasi dengan memesan barang secara terpisah tanpa visibilitas stok secara real-time.

Dari sisi teknologi, kegagalan ini menyoroti lemahnya integrasi antara sistem inventaris rumah sakit dengan platform pengadaan pusat. Tanpa dashboard yang akurat dan prediksi berbasis data, keputusan pembelian sering kali terlambat atau berlebihan.

Selain itu, minimnya penggunaan teknologi pelacakan seperti RFID atau IoT membuat distribusi PPE sulit dipantau. Barang yang sudah dikirim kadang tidak sampai ke unit yang membutuhkan, sementara unit lain kelebihan stok.

Dampaknya tidak hanya finansial. Tenaga kesehatan merasa tidak aman saat bekerja, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas perawatan pasien. Beberapa laporan menyebutkan peningkatan stres dan kelelahan karena harus terus-menerus mencari alat pelindung yang layak.

Di sisi lain, pengalaman ini memberi pelajaran berharga bagi pengembangan teknologi kesehatan ke depan. Negara-negara lain yang sudah mengadopsi sistem pengadaan berbasis AI dan blockchain cenderung lebih tangguh menghadapi lonjakan permintaan mendadak.

Pemerintah Inggris sendiri kini mulai mengevaluasi ulang seluruh infrastruktur digital pengadaan medis. Fokusnya adalah membangun platform terpusat yang bisa memberikan prediksi kebutuhan berdasarkan data epidemiologi dan konsumsi historis.

Langkah ini penting agar kejadian serupa tidak terulang. Teknologi yang tepat bisa mengubah cara kita mengelola krisis kesehatan, mulai dari perencanaan hingga distribusi di tingkat rumah sakit.