Perdana Menteri baru Inggris, Andy Burnham, langsung menunjukkan arah kebijakannya dengan janji tegas mengakhiri pengemis jalanan. Langkah ini menjadi sinyal awal tentang tipe pemimpin yang ingin ia tampilkan di tengah tantangan sosial yang mendesak.
Dalam pidato pertamanya, Burnham menekankan bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidur di jalanan di negara maju seperti Inggris. Ia berencana mengalokasikan dana khusus untuk program perumahan darurat dan layanan dukungan yang lebih terintegrasi. Pendekatan ini berbeda dari pemerintahan sebelumnya yang lebih berfokus pada sanksi.
Salah satu konteks penting di balik kebijakan ini adalah pengalaman Burnham saat menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester. Di sana ia sudah mencoba program serupa dengan melibatkan pemerintah daerah dan organisasi amal untuk menyediakan tempat tinggal sementara. Hasilnya menunjukkan penurunan jumlah pengemis jalanan di beberapa distrik, meski belum merata di seluruh wilayah.
Dampak yang diharapkan tidak hanya soal kenyamanan visual kota, tapi juga kesehatan masyarakat. Pengemis jalanan sering menghadapi masalah kesehatan kronis akibat paparan cuaca dan kurangnya akses layanan medis. Dengan mengakhiri praktik ini, pemerintah berpotensi mengurangi beban rumah sakit darurat yang selama ini menangani kasus-kasus tersebut.
Selain itu, kebijakan ini juga berkaitan dengan kondisi ekonomi pasca-pandemi. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan rumah dalam beberapa tahun terakhir, sehingga angka pengemis jalanan sempat naik tajam. Burnham ingin memastikan pemulihan ekonomi tidak meninggalkan kelompok paling rentan.
Kritikus berpendapat bahwa janji ini memerlukan anggaran besar dan koordinasi lintas kementerian yang rumit. Namun Burnham tampaknya siap mengambil risiko politik untuk membuktikan bahwa pemerintahannya lebih peduli pada isu kesejahteraan dasar.
Secara keseluruhan, langkah awal ini memberi gambaran bahwa Burnham ingin dikenal sebagai pemimpin yang pragmatis dan berorientasi pada hasil nyata di lapangan, bukan hanya retorika.
