Alan Shearer mengaku luka kekalahan Inggris dari Argentina di Piala Dunia 1998 masih terasa hingga kini. Momen itu memang pahit, terutama karena Inggris sempat unggul lewat gol Shearer sendiri sebelum akhirnya tersingkir di babak 16 besar. Namun, mantan striker andalan Timnas Inggris itu melihat peluang berbeda bagi skuad saat ini untuk menciptakan sejarah baru.
Dalam wawancara terbarunya, Shearer menekankan bahwa generasi pemain Inggris sekarang punya mentalitas dan persiapan yang lebih matang dibandingkan tim 1998. Mereka tidak hanya mengandalkan bakat alam, tapi juga sudah terbiasa dengan tekanan turnamen besar berkat pengalaman di Liga Champions dan kompetisi domestik yang ketat.
Salah satu konteks penting yang membedakan situasi sekarang adalah kemajuan teknologi dalam sepak bola. Jika dulu keputusan wasit di 1998 hanya bergantung pada pandangan mata tanpa bantuan VAR, kini teknologi video assistant referee sudah menjadi standar di Piala Dunia. Ini memberi peluang lebih adil bagi tim seperti Inggris untuk menghindari keputusan kontroversial yang dulu merugikan.
Selain itu, analisis data dan scouting berbasis AI juga jadi faktor pendukung yang tidak tersedia di era Shearer. Tim pelatih modern bisa mempelajari kelemahan lawan secara mendalam melalui statistik real-time dan simulasi, sesuatu yang bisa membantu Inggris memaksimalkan peluang mereka di turnamen mendatang.
Shearer sendiri mengingatkan bahwa kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Pemain-pemain kunci saat ini punya kesempatan untuk mengubah narasi panjang Inggris yang kerap gagal di fase gugur. Tekanan memang besar, tapi dukungan dari penggemar dan infrastruktur tim yang lebih baik bisa menjadi pembeda utama.
Secara keseluruhan, pesan Shearer tetap optimistis. Meski kenangan 1998 masih membekas, dia yakin tim ini mampu memanfaatkan semua keunggulan yang ada untuk meraih hasil berbeda dan mengukir nama mereka dalam sejarah sepak bola Inggris.











